Honestly, too many goodbye words can make you sick. At least, that is what I feel at the two last day at Tuntang.
14 Agustus 2011, tepat dua malam sebelum saya meninggalkan Tuntang. Teman-teman sepondokan yang biasa disebut “soangers” mulai sering bilang “ Yah putri mau pergi” “Besok malem kamu terakhir tidur empet empetan disini lho” “ Yah nanti sapa yang bakal di olo-olo” dll. Dan saat itu saya hanya bisa membalas dengan cengengesan plus tampang tanpa dosa (ya kali tampang lo tanpa dosa put hihi). I just think that see you soon should be better.
Malam itu saya ingat sekali badan dipenuhi tattoo alay bikinan anak-anak sepondokan dengan spidol. Tangan kaki jari sampe paha semua digambari. Alhasil hal itu yang membuat saya (sebenarnya) malu dan malas untuk turun kebawah pada saat yang lain sahur dan memilih untuk melanjutkan kisah saya dengan kasur tercinta hehe. Usaha yang cukup keras untuk menggosok tattoo2 tersebut untuk hilang karena (sumpah) alay banget hahaha. Dan inilah tattoo yang saya beri gelar “The Last Tattoo” by Karima Ayu aka Karimski aka Imin. Penghargaan ini didapat karena tattoo tattoan ini bandel bgt hilangnya dan baru hilang setelah dua kali mandi -__-“

15 Agustus 2011,malam terakhir di Tuntang. Minggu-minggu terakhir ini memang selalu dihiasi dengan pengerjaan laporan-laporan KKN. Ya KKN akan lebih indah bila tanpa laporan hehe. Menjelang buka puasa, soangers mulai siap-siap untuk buka puasa di luar yang ceritanya sekaligus farewell saya. Tempat makan yang kita tuju adalah Joglo Bu Rini. Oke buat yang ke salatiga atau sekedar mampir atau lewat di Salatiga wajib kesini. Racikan makanan iga nya joss dan sambelnya mantab! Selain itu tempatnya enak banget untuk kumpul-kumpul disertai dengan pemandangan sawah. Disanalah kami berbuka puasa sambil makan kalap hehe. Diakhir-akhir Soangers memberikan kenang-kenangan disertai dengan basa basi (menurut Anggie) oleh Bos Fina hehe. Ini adalah foto saya yang terdiri dari mozaik-mozaik foto kami selama KKN. Hmm udah unyu banget waktu itu plus ada rasa haru, untung air mata masih bisa terbendung :’)

Selesainya kami berbuka puasa bersama, temen-temen cowo dari pondokan sebat dateng ke pondokan soang. Ceritanya untuk perpisahan. Yeah saya akan selalu ingat pesan-pesan kalian malam itu. Apalagi pesan “Put,jangan lupa bawa bekal…” saya kira lanjutannya akan ilmu, budaya atau apalah ternyata “indomie goreng” hahahha LOL . Inilah kumpulan pesan mereka yang tidak boleh saya buka sampai hari keberangkatan saya.

16 Agustus 2011, hari terakhir saya di Tuntang dimulai dengan bangun kaget di pagi hari. Yak tiba-tiba saja sang Dosen Pembimbing Lapangan tiba-tiba datang ke lokasi KKN. Kontan kami bangun sambil terkejut begitu kami mendengar suara “kuririn” dari lantai bawah. Semua tanpa diperintah langsung siap-siap untuk turun. Pemeriksaan dan penandatangan laporan berjalan lancar dan tiba saatnya untuk pulang dan meninggalkan teman-teman lain yang masih harus disana.
Yak jalan yang sama ketika kurang lebih 1,5 bulan yang lalu saya kemari menaiki bus white shark dengan teman-teman lainnya. Bedanya kali ini saya menggunakan travel dan hanya ditemani oleh kedua teman begadang saya yaitu Imin dan Enji. Satu setengah bulan lalu saya datang ke Tuntang dengan rasa khawatir. Khawatir apakah saya akan betah disini, dengan teman-teman yang mayoritas belum begitu saya kenal. Ditambah lagi ada sedikit rasa kesal karena 1,5 waktu terakhir ini justru tidak saya habiskan bersama teman-teman terdekat. Tapi ternyata hanya butuh beberapa jam untuk mengeluarkan sifat braok kami sepondokan hehe. Dan saya lebih dari sekedar betah disana. Belajar mengenai kesederhanaan dan berbagi :) memasak dan mencuci hehe. Dan saya bersyukur
It’s unforgettable memory. But the wheel keeps working now.
And if you never stop when you wave goodbye
You just might find if you give it time
You will wave hello again
You just might wave hello again
And that’s the way this wheel keeps working now
(Wheel – John Mayer)